Kamis, 08 September 2011

Persahabatan Bagai Kepompong

Tahun 1991 ketika awal masuk keperguruan tinggi, aku dan keempat temanku yang masih berstatus mahasiswa baru  saat itu, bertemu dan saling mengenal antara satu dengan yang lainya. dari rangkaian kegiatan penataran, ospek hingga orientasi jurusan  semakin membangun keakraban antara kami, sejak saat itulah  kebersaman kami terbangun dalam satu ikatan persabatan yang begitu kental. 

Selama perkuliahan kami takpernah terpisah, kemanapun selalu bersama, bahkan diluar kampus kami tetap bersama, hingga teman-teman kampus lainya memberi gelar 5 sekawan pada kami....hahaha mengesankan sungguh sebuah persahabatan yang kental.

Dibalik keseriusan perkawanan itu, teman-teman kampus sangat menyukai lawakan kami dengan plesetan-plesetan, gaya bicara, serta ekspresi. Pokoknya kami sering didatangi oleh teman-teman lain hanya untuk mendengarkan banyolan kami, hehehe "pelawak kampus"  
 
Suatu ketika ditahun 1993 ketika gerakan reformasi bergejolak dan para mahasiswa saat itu seakan terlepas dari kerangkeng yang membatasi ruang geraknya, kamipun mulai intens melakukan diskusi-diskusi tentang banyak hal. 

Tema pendidikan selalu menjadi topik utama dalam diskusi-diskusi kami, tidak jarang diskusi menjadi memanas hingga adu argumenpun terjadi dan selalu saja tidak menemukan solusi dari pokok masalah yang dibahas. jika hal seperti ini terjadi kami selalu berupaya menyegarkan suasana dengan lawakan dan atau mendengarkan lagu power metal sambil menyanyikan hingga suara kami semua parau, hehehe.... "Arul dilawan" 

Sekitar tahun 1996 kegelisan terhadap beberapa masalah pendidikan yang selama ini didiskusikan telah mencapai puncak klimaks dan terbangunlah komitmen untuk melakukan gerakan yang lebih kongkritd. Kami berlima membagi peran untuk sebua cita-cita bersama Aku "Dik-Dik memilih bergabung bersama teman-teman NGO, Ruly masuk diruang birokrasi, Wiwin bergabung dengan kelompok Budayawan dan Seniman,  sementara Rahmat serta Ade memilih menjadi Guru.

Komitmenpun mulai berjalan. Tahun 1997 aku meninggalkan kampus dan aktif di NGO yang cukup radikal di Kota Palu, Ruly telah menjadi PNS di Dinas Pendidikan Propinsi, Wiwin telah ikut dalam beberapa kegiatan kelompok budayawan dan  seniman muda Sulawesi Tengah, sementara Ade dan Rahmat mengikuti tes CPNS untuk menjadi guru.

Ditengah kesibukan dalam aktifitas kami yang telah berbeda itu, kerinduan untuk bertemu dan bersama selalu saja mengusik konsentrasi dan fokus kerja kami. apa lagi bagi aku yang sering keluar daerah dengan kegiatan NGO tak jarang marasa sendiri ditengah kerumunan orang banyak.

Waktu terus bergulir usiapun semakin bertambah, sepertinya kami telah berjalan seperti  seekor siput . mungkinkah harapan itu masih ada?... 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar