| PENDIDIKAN - PENDIDIKAN
Senin, 07 November 2011 , 22:12:00
JAKARTA -- Anggota
Komisi X DPR RI, Dedi Gumelar menilai, kebijakan otonomi daerah (otda)
yang menyerahkan urusan pendidikan ke pemerintah kabupaten/kota,
merupakan kebijakan yang terlalu gegabah
“Saya kira, keberanian untuk mengotdakan pendidikan itu sangat gegabah.
Pendidikan itu kan basic pembangunan manusia. Lagipula, otda sendiri pun
belum teruji,” ujar Dedi ketika dihubungi melalui telepon selularnya di
Jakarta, Senin (7/11).
Sebenarnya, lanjut Dedi, banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari
desentraliasi pendidikan tersebut. Sebut saja, masalah guru dan jabatan
kepala sekolah. “Guru jadi terkooptasi kepentingan politik lokal. Kepala
sekolah yang bagus, akan dilengserkan karena tidak mendukung kepada
daerahnya,” ujar Dedi.
Dia setuju urusan pendidikan ditarik lagi menjadi urusan pusat. Hanya
saja, lanjutnya, peralihan dari desentralisasi menjadi sentralisasi,
menurutnya memang harus dilakukan secara bertahap karena tentunya akan
terkait dengan undang-undang.
Dikatakan, mungkin bisa dimulai dengan sentraliasi masalah guru. “Kalau
perlu, guru harus ada ikatan dinas. Sehingga, guru tidak akan terkena
dampak politik lokal dan bisa ditempatkan di mana saja. Guru
dikembalikan pada pusat,” imbuhnya.
Dedi menambahkan, jika tata kelola otda ke depannya sudah membaik, maka
tidak menuntup kemungkinan jika daerah diberi kewenangan kembali.
“Untung saja saat ini masalah anggaran atau keuangan tidak sepenuhnya
diserahkan ke daerah, dan masih sebagian dikelola oleh pusat. Kalau
tidak, bisa semakin berantakan. Karena daerah memang belum siap
menghadapi desentralisasi atau otda ini,” paparnya. (cha/jpnn)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar